Alhamdulillah, kita telah memasuki hari-hari awal Ramadhan. Semoga puasa yang sedang kita jalani menjadi awal yang baik untuk perjalanan ibadah kita tahun ini. Bagi para pembaca yang dirahmati Allah, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang mengenal dan menata diri lebih dalam lagi—agar puasa kita tidak hanya terasa di tubuh, tetapi juga menyentuh jiwa dan ruh.
Manusia memiliki 3 lapisan penting dalam dirinya. Pertama adalah raga. Tampan/cantik, kuat, sehat dan lain sebagainnya adalah bagian dari raga yang menjadi lapisan paling luar. Kedua, jiwa. Mental, intelektual, emosi, kecerdasan ada pada lapisan tengah ini. Terakhir, Ruh. Bagian terdalam ini mencakup kesadaran ketuhanan atau spiritual.
Ramadhan adalah bulan di mana kita melatih diri kita utamanya secara ruhiyah; secara spiritual. Mungkin kita ketahui belakangan bahwa puasa makan ini juga banyak dijadikan salah satu metode kesehatan raga. Namun yang lebih penting dari itu adalah keberadaan puasa sebagai metode dalam melatih ruh; melatih spiritual kita.
Ramadhan adalah madrasah kilat sebulan bagi muslim untuk membersihkan raga, jiwa dan intelektual. Ia adalah bulan tazkiyah untuk bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah bulan latihan. Latihan menahan, latihan mengendalikan, latihan menundukkan diri di hadapan Allah. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Dari ayat di atas, dapat kita simpulkan bahwa tujuan puasa bukanlah lapar dan haus. Melainkan niat agung ketakwaan. Dan takwa itu lahir dari kemampuan mengendalikan diri. Oleh karena itu, jika puasa hanya menahan makan dan minum, maka orang sakit pun bisa melakukannya. Namun tujuan puasa Ramadhan lebih dalam dari itu. Ia melatih kita menahan amarah, menjaga lisan, menundukkan pandangan, serta membersihkan hati dari iri, dengki serta penyakit ruh lainnya.
Selama sebulan, seorang muslim menjalani banyak program intensif pembinaan diri. Dalam waktu satu bulan, seluruh aspek jiwa disentuh seperti sabar, ikhlas, disiplin, kepeduli, dan ketaatan.
1. Melatih Kesabaran
Puasa seringkali membuat fisik terasa lemah dan emosi lebih mudah terpancing. Hal-hal kecil yang biasanya bisa ditoleransi, kadang terasa lebih mengganggu saat perut kosong. Di sinilah latihan sesungguhnya dimulai. Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri—bukan hanya dari makan dan minum, tetapi juga dari amarah, ucapan yang menyakitkan, dan sikap yang berlebihan. Jika kita mampu melewati hari-hari puasa dengan sabar dan lapang dada, itu tanda bahwa Ramadhan sedang membentuk kedewasaan dalam diri kita.
2. Lebih Dekat kepada Allah
Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda. Hati terasa lebih mudah tersentuh, masjid lebih ramai, dan doa-doa terasa lebih khusyuk. Kita jadi lebih rajin shalat, lebih sering berdzikir, dan lebih ringan untuk beristighfar. Bulan ini seperti ruang khusus yang Allah siapkan agar kita bisa memperbaiki hubungan dengan-Nya. Sayang sekali jika kesempatan yang datang setahun sekali ini tidak kita manfaatkan sebaik-baiknya.
3. Lebih Dekat dengan Al-Qur’an
Ramadhan selalu identik dengan Al-Qur’an. Di bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan sebagai petunjuk hidup. Karena itu, banyak orang kembali membiasakan diri membaca, mengkaji, bahkan mengkhatamkannya. Namun yang lebih penting dari sekadar membaca adalah mencoba memahami pesan-pesannya. Sedikit demi sedikit, ayat-ayat itu akan memberi arah dan ketenangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
4. Pembiasaan Ibadah Jamaah
Ada suasana hangat yang khas di bulan Ramadhan. Shalat tarawih berjamaah, tadarus bersama, dan momen buka puasa dengan keluarga atau sahabat menghadirkan kebersamaan yang jarang ditemui di bulan lain. Ramadhan mengingatkan kita bahwa ibadah juga bisa menguatkan tali persaudaraan. Dari sini tumbuh rasa saling mendukung dalam kebaikan dan semangat untuk terus menjaga ukhuwah.
5. Kepedulian Sosial
Saat kita merasakan lapar sepanjang hari, kita menjadi lebih peka terhadap mereka yang mungkin setiap hari hidup dalam kekurangan. Ramadhan menumbuhkan empati. Karena itu zakat, infak, dan sedekah terasa lebih hidup di bulan ini. Kita belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya tentang menerima, tetapi juga tentang berbagi. Dari tangan yang memberi, lahir hati yang lebih bersih dan penuh rasa syukur.
Semua latihan itu—sabar, mendekat kepada Allah, memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an, hingga membangun kepedulian sosial—pada akhirnya bermuara pada satu hal: perbaikan akhlak dalam ruh kita.
Namun sering kali di sinilah kita tergelincir. Betapa sering seseorang berpuasa, tetapi lisannya masih melukai. Betapa banyak yang menahan lapar, namun tidak menahan amarah. Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan (buruk) dengannya, maka Allah tidak peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.”
“Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapat pahala puasa kecuali hanya lapar dan hausnya saja. Berapa banyak orang yang bangun malam, tidak mendapat pahala kecuali hanya bangun malamnya saja.”
Selain itu, ibadah puasa Ramadhan dimaksudkan untuk melatih dan menguji umat Islam dalam mengikuti perintah Allah. Hanya orang-orang beriman yang dapat melaksanakannya dengan khidmat dan ikhlas. Di awal ayat perintah Allah menggunakan kata “orang-orang beriman”. Hal ini dimaksudkan agar mereka yang memiliki iman di dalam hati tersentuh dan tergerak untuk mengerjakannya.
Karenanya, Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menjelaskan bahwa perintah puasa yang dimaksud ayat di atas bukan hanya sekadar perintah menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami-istri semata. Melainkan harus didasari dengan niat karena Allah, membersihkan jiwa dan raga dari amal-amal buruk dan tercela, selain juga sebagai cara untuk mempersempit gerak setan dalam menggoda manusia. Karena dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bahwa kewajiban berpuasa sudah ada pada umat sebelumnya, maka selayaknya umat Islam lebih bersungguh-sungguh menunaikannya dan menyempurnakannya menjadi lebih baik daripada umat sebelumnya.
Kemudian terkait makna takwa pada ayat di atas, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan ada dua kemungkinan. Ia menjelaskan:
أَيْ تَتَّقُونَ اللَّهَ بِصَوْمِكُمْ وَتَرْكِكُمْ لِلشَّهَوَاتِ. فَالرَّغْبَةُ فِي الْمَطْعُومِ وَالْمَنْكُوحِ أَشَدُّ مِنَ الرَّغْبَةِ فِي غَيْرِهِمَا، وَالِاتِّقَاءُ عَنْهُمَا أَشَقُّ . فَإِذَا سَهُلَ عَلَيْكُمُ اتِّقَاءُ اللَّهِ بِتَرْكِهِمَا كَانَ اتِّقَاءُ اللَّهِ بِتَرْكِ غَيْرِهِمَا أَسْهَلَ وَأَخَفَّ. أَوِ الْمَعْنَى لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ تَرْكَ الْمُحَافَظَةِ عَلَى الصَّوْمِ بِسَبَبِ عِظَمِ دَرَجَاتِهِ.
“Artinya, kalian bertakwa kepada Allah dengan puasa dan dengan meninggalkan syahwat. Keinginan terhadap makanan dan hubungan suami-istri itu lebih kuat dibanding keinginan terhadap hal-hal lainnya, dan menahan diri dari keduanya juga lebih berat. Jika kalian sudah mampu bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan dua hal tersebut, maka bertakwa kepada Allah dengan meninggalkan selain keduanya tentu akan lebih mudah dan ringan. Atau maknanya, supaya kalian bertakwa dengan tidak meninggalkan penjagaan terhadap puasa, karena besarnya dan tingginya derajat puasa.”
Semoga dalam waktu sebulan Ramadhan ini Ruh kita benar-benar lolos dalam proses pelatihan. Ibadah kita diterima sehingga kita bisa tergolong salah satu yang dikatakan oleh Allah dengan orang-orang yang bertaqwa. Aminn ya rabbal alamin
Wallahu a’lam. [Alfa]

