IRAN DAN PALESTINA:  BERBEDA NAMUN SATU SAUDARA

Beberapa hari ini kita dikejutkan dengan gemparnya pemberitaan dunia tentang penyerangan Negara Israel ke Iran hingga menyebabkan meninggalnya pemimpin Iran. Yaitu Ayatollah Ali Khamenei. Beliau meninggal dunia pada usia 86 tahun akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menargetkan kediamannya di pusat Teheran.

Media pemerintah Iran mengkonfirmasi kabar tersebut pada 1 Maret 2026 sehingga memicu gelombang duka mendalam di seluruh negeri. Serangan tersebut terjadi pada 28 Februari 2026 dan turut menewaskan beberapa anggota keluarga, pejabat, serta beberapa rakyat Iran.

Secara historis Iran memang menjadi tombak utama dalam membela umat muslim dan kedaulatan Palestina. Membela Palestina terutama karena alasan ideologis Revolusi Islam 1979 yang menentang penjajahan, solidaritas Islam, dan strategi politik anti-Israel, bukan didasarkan pada kesamaan mazhab (Syiah-Sunni). Dukungan ini diwujudkan melalui bantuan militer, pendanaan, serta pelatihan kepada kelompok perlawanan Palestina (Hamas dan Jihad Islam).

Iran memandang Israel sebagai “entitas penjajah” di Timur Tengah. Mendukung Palestina adalah bagian dari upaya melawan pengaruh Amerika Serikat dan sekutunya di wilayah tersebut. Pemimpin tertinggi Iran menganggap pembelaan terhadap Palestina sebagai simbol pembelaan kehormatan Islam secara umum, bukan tentang sekat-sekat mazhab. Dan keseriusan Iran dalam pembelaannya adalah dengan memelopori Hari Al-Quds Internasional untuk menegaskan kepemilikan tanah suci.

Konflik Palestina-Israel memang menjadi isu besar yang belum menemukan ujung penyelesaiannya. Bagi umat Islam, Palestina bukan sekadar tanah sengketa, melainkan bagian dari sejarah spiritual, identitas, dan kemanusiaan yang terus disakiti. Namun, realitas dunia Muslim hari ini menunjukkan ketidakpastian. Meski secara lisan banyak negara Muslim menyatakan dukungan terhadap Palestina, secara praktis mereka kerap mengambil langkah-langkah yang justru mengkhianati nilai solidaritas itu.

Fenomena ini makin mencolok saat Iran, salah satu negara yang konsisten menyuarakan dukungan terhadap perjuangan Palestina, tampil di garis terdepan melawan agresi Israel. Bukannya mendapat dukungan luas dari sesama negara Muslim, Iran justru kerap ditinggalkan, disudutkan, atau dianggap ancaman oleh sebagian besar negara-negara Arab dan Muslim lainnya.

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa solidaritas terhadap Palestina semakin lama semakin kehilangan esensi aslinya. Simpati kepada Palestina bukan lagi menjadi panggilan hati nurani dan iman, tetapi lebih sering menjadi alat yang bisa digunakan, ditarik, bahkan dibuang sesuai kepentingan domestik dan aliansi global masing-masing negara . Makanya Isu Palestina kini terjebak dalam pusaran politik internasional dan sentimen kelompok.

Bahkan, yang menyedihkan banyak negara Muslim menjadikan perbedaan mazhab sebagai alasan untuk tidak menyambut atau bahkan menentang dukungan yang diberikan oleh Iran terhadap rakyat Palestina. Di sinilah terlihat betapa dunia Islam masih dikendalikan oleh sekat-sekat yang seharusnya tidak lagi perlu diberatkan.

Padahal, apabila ditinjau lebih dalam, dukungan terhadap Palestina semestinya berdiri di atas nilai-nilai Islam yakni keadilan, kebersamaan, dan perlawanan terhadap kezaliman. Ketika nilai-nilai ini dikalahkan oleh kalkulasi politik atau fanatisme mazhab, maka umat Islam telah kehilangan arah untuk perjuangan kemerdekaan Palestina.

Rasulullah SAW pernah bersabda:

يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا .فَقَالَ قَائِلٌ: أَوَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ .قَالَ: بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ: وَمَا الْوَهْنُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Hampir saja bangsa-bangsa akan saling memanggil untuk menyerbu kalian seperti orang-orang yang mengerumuni hidangan.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit saat itu?” Beliau menjawab, “Bahkan kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di atas arus. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh kalian terhadap kalian, dan Allah akan menanamkan wahn di dalam hati kalian.” Seseorang bertanya, “Apa itu wahn, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”(HR. Abu Dawud)

Makanya tidak heran ketika Palestina diporak-porandakan oleh Israel. Muncul pertanyaan, dimana orang-orang muslim Arab?! dimana negara yang mayoritas Islam?!, dan dimana negara-negara yang menyuarakan free paletine?!”

Pertanyaan itu dilontarkan seseorang yang muncul dari puing-puing seraya menggendong anak-anak yang sudah meninggal. Dia berteriak tanpa daya ke arah kamera yang menyorotnya. Pertanyaan ini terus diulang oleh warga Gaza yang keheranan mengapa orang-orang di negara kawasan Arab tidak melindungi mereka dari pengeboman Israel.

Padahal, jika kita menyelami lebih dalam, solidaritas dan persaudaraan merupakan ajaran yang sangat mulia dalam Islam. Islam mengajarkan kita untuk merasa sebagai bagian dari satu umat yang saling mendukung dan melindungi kepada sesama. Sudah seyogyanya sebagai umat Islam, memiliki tanggung jawab kepada sesama muslim yang lain, tanggung jawab itu adalah mendukung, peduli, membantu dalam kebaikan, termasuk juga membantu meraih kemerdekaan bagi saudara-saudara kita yang ada di Palestina.

Sebagaimana ajaran dalam Islam, Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.

‎وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الأِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al Maidah : 2)

Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam menafsirkan ayat tersebut memberikan gambaran antara orang Islam dengan muslim yang lainnya. Masing-masing pasti saling membutuhkan, maka saling tolong-menolong adalah cara terbaik untuk membangun persatuan dan kesempurnaan.

Gambarannya, orang yang hendak membangun rumah, tidak mungkin melakukannya dengan sendiri, setiap orang memiliki bagian masing-masing. Ada yang membuat tembok, ada yang membuat besi, bata, semen dan lainnya.

Dalam menolong, tidak lagi membahas tentang madzhab, aliran, baik Sunni ataupun Syiah, akan tetapi ukhuwah Islamiyyah. Yaitu persaudaraan antara umat muslim. Dengan demikian, kekuatan umat Islam di semua penjuru akan benar-benar kokoh demi membela kedaulatan Palestina yang selama ini mendapatkan perlakuan biadap dari Israel.

اللَّهُمَّ احْفَظْ أَهْلَ فِلَسْطِينَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ وَظُلْمٍ، وَاكْفِهِمْ مَا هَمَّهُمْ وَمَا غَمَّهُمْ

“Ya Allah, lindungilah rakyat Palestina dari segala kejahatan dan kezaliman, cukupkanlah mereka dari segala hal yang membuat mereka resah dan sedih”

حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Cukuplah bagi kami Allah, sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baiknya penolong kami

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top