Sebelum datangnya Islam, masyarakat Arab klasik memiliki dua hari raya yaitu hari raya Nairuz dan Mahrajan yang dirayakan dengan sambutan pesta pora yang tidak bermanfaat. Masyarakat Arab biasa merayakannya dengan pesta khamar, menari, dan adu ketangkasan. Setelah Nabi datang, Nabi mengganti dua hari raya tersebut dengan hari raya dan ritual yang jauh lebih baik. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Dari Anas bin Malik, Rasulullah bersabda: “Kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain”. Ketika Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: “Kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha”. (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i)
Hari Raya yang dibawa Nabi bukan hanya mengandung ritual yang lebih baik, melainkan juga lebih menebar manfaat. Umat muslim dianjurkan untuk membayar zakat fitrah sebelum ia menunaikan shalat Id; suatu bentuk kepedulian dan kemerataan ekonomi. Islam sangat menganjurkan kepedulian pada sesama disekitarnya. Sehingga Idul Fitri bukan hanya ajang pamer sandang pakaian. Sebagaimana perkataan yang dialamatkan kepada Sayyidina Ali RA, yakni:
لَيْسَ الْعِيْدُ مَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ وَلَكِنَّ الْعِيْدَ مَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ، ولَيْسَ العِيْدُ لِمَنْ تَجَمَّلَ بِاللِّبَاسِ وَالمَرْكُوْبِ، إِنَّمَا العِيْدُ لِمَنْ غُفِرَتْ لَهُ الذُّنُوْبُ
“(Hakikat) Idul Fitri bukanlah milik orang yang memakai pakaian baru, tetapi (hakikat) Idul Fitri itu adalah milik orang yang ketaatannya bertambah, dan Hari raya bukanlah bagi mereka yang berbaju baru dan berkendaraan mewah, akan tetapi hari raya adalah bagi mereka yang dosa-dosanya diampuni.”
Perkataan Sayyidina Ali ini cukup mengajarkan kita bagaimana sikap kita seharusnya dalam merayakan Idul Fitri. Idul Fitri bukanlah panggung memamerkan baju, perhiasan dan atribusi jabatan pribadi. Idul Fitri adalah media dan momentum semakin berkualitasnya iman dan ketakwaan kepada Allah. Ia disambut dengan penuh syukur, khusuk, sederhana dan penuh kehangatan melalui rasa peduli kita pada sekitar.
Perayaan Idul Fitri pertama bertepatan dengan kemenangan Nabi SAW dalam perang Badar. Perang yang saat itu terlaksana dalam keadaan berpuasa. Perang yang pasukan Muslim saat itu jauh lebih sedikit dari kaum Quraisy Makkah. Namun berkat pertolongan Allah, perang Badar ini pun disambut kemenangan di pihak Muslim.
Tahun pertama penunaian puasa Nabi harus dihadapi dengan perang. Setelah dibekali kemenangan di Badar, Idul Fitri tiba. Nabi berhari raya dalam keadaan letih, bahkan -dalam beberapa riwayat- beliau harus berkhutbah dengan bersandar kepada Bilal. Namun, di kala itu, Nabi SAW memberikan contoh baik terkait Ied dan bagaimana merayakannya. Idul Fitri pertama tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari kesederhanaan.
Namun Nabi tidak berhenti pada dimensi spiritual. Zakat fitrah juga memiliki tujuan sosial yang terang: agar orang miskin tidak menjadi penonton dalam kegembiraan umat. Pada hari raya pertama itu, Islam menegaskan sesuatu yang sangat penting bagi sejarah peradaban: kebahagiaan tidak boleh eksklusif. Ia harus dibagi kepada sesama agar menjadi berkah.
Karena itu Nabi mengajak seluruh masyarakat keluar menuju lapangan. Tidak ada adzan. Tidak ada iqamah. Hanya manusia-manusia yang berkumpul dalam kesadaran yang sama: mereka baru saja melewati latihan pengendalian diri selama satu bulan penuh. Mereka berjalan dari rumah ke tempat sholat sembari menggemakan takbir.
Dalam momentum ini, bahkan perempuan dianjurkan hadir. Mereka yang sedang haid tetap diminta datang untuk mendengarkan khutbah dan merasakan suasana hari raya. Sejak awal, Idul Fitri bukan sekadar ritual privat antara manusia dan Tuhan. Ia adalah peristiwa sosial yang mempersatukan masyarakat. Semua hadir dan berinteraksi dengan hangat. Bahkan sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari, Nabi melarang puasa di hari Idul Fitri, beliau bersabda:
“Dari Abu Said r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Nabi melarang berpuasa di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. (H.R. al-Bukhari).
Salah satu alasan Nabi melarang puasa di hari ini adalah dikarenakan dua hari raya ini adalah hari spesial. Hari pesta sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang Allah berikan. Namun demikian, sebagaimana Nabi dan para sahabat menyambut kehadiran momen ini, mereka semua merayakannya dengan penuh khidmat. Mereka merayakannya dengan penuh rasa syukur yang sederhana namun hangat. Mereka menyambutnya dengan takbir yang menggema secara bersamaan.
Oleh karena itu, Idul Fitri bukan hanya sebatas euforia belaka. Sehingga jadilah kita sebagai masyarakat materialistik yang lebih suka melihat lahiriyah yang ada pada Lebaran: THR, baju baru, hidangan lezat, mudik, dan sebagainya. Nabi tidak mengajarkan kita materialistik dalam menyambut lebaran. Sebab, kebahagiaan tidak hanya terwujud dalam materi yang dihamburkan dan dipamerkan. Hal yang seharusnya kita lakukan adalah tidak berlebihan dalam merayakan lebaran. Bukan semata-mata karena kita tidak bergembira, namun sebagai bentuk simpati dan empati kita terhadap beberapa masyarakat yang tidak bisa ikut merayakan hari raya sesuai rencana karena banyak faktor.
Idul Fitri seharusnya menjadi puncak perjalanan ibadah bagi kita sebagai gairah semangat umat Islam dalam menjalani kehidupan. Karena makna Idul Fitri itu sendiri yang berarti kembali ke fitri, suci. Nabi pun menganalogikannya seperti bayi yang terlahir kembali dari rahim ibunya. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci)”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Karenanya, Idul Fitri bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, tetapi justru sebagai tolak ukur awal menuju perjalanan selanjutnya, untuk menjaga dan merawat kesucian tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Jika selama Ramadan kita ditempa, dididik, dilatih, serta dibimbing menjadi pribadi yang mulia, untuk menjadi manusia paripurna, insan kamil, maka kemudian Idul Fitri adalah kompensasi agar kita rehat sejenak dan bersiap kembali meneruskan perjalanan. Sembari merefleksikan diri di hari yang suci, dengan penuh harap semoga kita bertemu dengan Ramadhan dan Idul Fitri mendatang dalam keadaan sehat dan penuh ghirah ketaqwaan.
Wallahua’lam [Alfa]

