KETEGANGAN DUNIA DAN KETENANGAN SEORANG MUKMIN

Akhir-akhir ini, kita dihadapkan pada kecemasan yang seolah tak berkesudahan. Konflik antara Iran dan Israel-Amerika Serikat terus memanas, menghadirkan ketegangan yang dampaknya dirasakan oleh hampir seluruh dunia. Obrolan para pemimpin negara saat ini bukan lagi sekadar soal keamanan, tetapi telah merambah ke berbagai lini kehidupan: energi, minyak, hingga kebutuhan pangan.

Tanpa perlu memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah, kita menyadari bahwa dunia saat ini sedang berada dalam fase ketegangan politik yang kompleks. Penutupan akses strategis seperti Selat Hormuz, misalnya, berdampak besar terhadap distribusi minyak dunia. Akibatnya, bahan bakar di beberapa negara menjadi langka dan harganya melonjak tajam. Imbasnya pun terasa hingga ke kehidupan sehari-hari: kelangkaan gas untuk memasak, naiknya biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok yang semakin tinggi.

Dalam kondisi seperti ini, kita tidak hanya diuji secara ekonomi, tetapi juga secara mental dan spiritual.

Namun, di tengah situasi yang serba tidak pasti ini, Islam mengajarkan kita untuk tidak larut dalam kecemasan. Justru kita diajak untuk kembali menyadari betapa banyak nikmat yang masih kita miliki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا

Bersyukur, di tengah mahalnya kebutuhan dan sulitnya keadaan, kita masih diberi kesehatan. Kita masih mampu melangkah menuju masjid, melaksanakan shalat, bahkan menunaikan shalat Jum’at. Dua nikmat ini—sehat dan iman—sering kali luput dari perhatian, padahal keduanya tidak tergantikan oleh apa pun.

Dalam menapaki kehidupan di dunia ini, kita memang tidak akan lepas dari ujian. Rasa takut, kekhawatiran, kekurangan harta, bahkan ketidakpastian masa depan adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 155)

Ayat ini seakan menjadi cermin dari kondisi yang kita alami hari ini. Kecemasan ekonomi, ketakutan akan masa depan, dan berbagai kesulitan hidup adalah bagian dari ujian yang Allah berikan.

Namun penting untuk kita pahami, bahwa ujian dan musibah bukanlah tanda kebencian Allah kepada hamba-Nya. Justru, ujian itu adalah tanda cinta-Nya. Dengan ujian, dosa-dosa kita digugurkan, dan derajat kita diangkat di sisi-Nya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani)

Semakin besar cinta Allah kepada seseorang, semakin besar pula ujian yang diberikan kepadanya. Para Nabi dan Rasul adalah bukti nyata—mereka adalah orang-orang yang paling dicintai Allah, sekaligus yang paling berat ujiannya. Maka dalam menghadapi kondisi seperti saat ini, kita membutuhkan bekal utama: kesabaran.

Selain sabar, Allah SWT juga memberikan petunjuk agar kita tidak salah langkah dalam menghadapi ujian, yaitu dengan menjadikan shalat sebagai penolong. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 153:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah: 153).

Dalam ayat yang lain Allah SWT juga menegaskan:

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu” (QS. Al Baqarah: 45).

Para ulama menjelaskan bahwa sabar mencakup tiga hal: sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, sabar dalam meninggalkan maksiat, dan sabar dalam menghadapi ujian kehidupan.

Dalam konteks saat ini, ketika harga-harga kebutuhan pokok semakin melambung dan kondisi ekonomi terasa semakin berat, maka kesabaran menjadi modal utama yang harus kita miliki. Namun Islam tidak hanya mengajarkan sabar secara pribadi, tetapi juga kepedulian sosial dan kekuatan kebersamaan.

Hal ini pernah dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW ketika menghadapi kondisi serupa di Madinah. Saat itu, harga-harga melambung dan masyarakat mengalami kesulitan ekonomi. Dalam situasi tersebut, Rasulullah SAW tidak hanya mengajak umatnya untuk bersabar, tetapi juga menanamkan semangat kebersamaan dan saling menguatkan. Beliau bersabda Ketika harga di Madinah melambung dan kesulitan ekonomi semakin meningkat. Rasulullah bersabda:

“Bersabarlah dan bergembiralah! Sesungguhnya, Allah telah memberikan berkah pada takaran dan timbangan kalian. Makanlah dan janganlah bercerai-berai, karena makanan satu orang dapat mencukupi untuk dua orang, makanan dua orang mencukupi untuk empat orang, dan makanan empat orang mencukupi untuk lima dan enam orang. Berkah terdapat dalam kebersamaan. Barangsiapa yang bersabar terhadap kenaikan harga dan kesulitan ekonomi ini, aku akan menjadi syafaat atau saksi baginya di hari kiamat. Barangsiapa yang meninggalkan kebersamaan ini karena tidak suka padanya, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik di dalamnya. Siapa yang menginginkannya dengan niat buruk, Allah akan meleburnya sebagaimana garam larut dalam air’.” (Hadits dikutip oleh ‘Ali bin Husain Al-Hindi dalam Kitab Kanzul ‘Ummal)

Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi kita hari ini. Di tengah kesulitan, kita tidak diajarkan untuk panik atau saling menyalahkan, tetapi untuk memperkuat ukhuwah, saling berbagi, dan menjaga persatuan. Karena keberkahan sering kali hadir bukan karena banyaknya harta, tetapi karena kebersamaan yang dilandasi keikhlasan.

Akhir kata, di tengah kecemasan dunia yang terus bergulir, sejatinya kita sedang diuji: bukan hanya tentang bagaimana kita bertahan, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap.

Apakah kita akan larut dalam ketakutan, ataukah kita memilih untuk mendekat kepada Allah?
Apakah kita akan mengeluh, ataukah kita belajar bersabar dan bersyukur?
Apakah kita akan berjalan sendiri, ataukah kita menguatkan satu sama lain?

Dunia boleh saja tidak menentu, tetapi hati seorang mukmin seharusnya tetap tenang—karena ia tahu kepada siapa ia bergantung.

Semoga setiap ujian yang kita hadapi menjadikan kita pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah SWT. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan pertolongan-Nya, di dunia maupun di akhirat.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top