Hari raya idul Fitri sudah ada depan mata. Sebagaimana kebiasaan masyarakat Indonesia, mereka berbondong-bondong pergi ke pusat belanja baik bahan pokok ataupun pakaian. Mulai sepuluh terakhir di bulan Ramadhan telah ramai di mall-mall pusat belanja. Entah, tradisi telah mengakar kuat sejak kapan.
Padahal, tidak semua orang tua memiliki uang yang berlebih demi membelikan anaknya baju baru. Banyak di sekitar kita orangtua yang rela tidak beli pakaian baru yang penting anaknya bisa beli baru. Di benak seorang tulang punggung, hari raya adalah hari dimana pengeluaran yang tidak sedikit nominalnya. Kebutuhan kue lebaran, bahan pokok dapur yang tidak seperti biasanya.
Lalu, bagaimana Islam memberikan penjelasan. Dalam Islam, hari raya merupakan kemenangan. Kemenangan setelah satu bulan penuh panen pahala bagi yang berpuasa dan yang melakukan amal baik. Dan puncaknya adalah hari raya idul Fitri. Oleh karenanya disebut idul Fitri yaitu kembali fitrah atau suci. Yang dimaksud suci adalah ruhaniyahnya bukan dhohiriyahnya dengan pakaian yang serba baru tapi secara hati masih belum clean.
Disebutkan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdil Qadir Qudsi al-Makki asy-Syafi’i dalam kitabnya Kanzun Najah was Surur:
لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ
Artinya, “Bukanlah disebut id bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru, sesungguhnya id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan setiap hari yang tiada maksiat di dalamnya itulah id”
Selain tentang pakaian baru, dalam perayaan idul Fitri juga menjadi moment untuk menambah kuatnya ikatan kepada orang tua. Ied juga bermakna kembali ke pelukan orangtua. Istilahnya adalah pulang kampung. Ada yang pulang dari perantauan sebab pekerjaan, atau ikut pasangan sehingga terpisah jarak dari orang tuanya. Yang intinya adalah sungkeman memohon maaf dan ridho orang tua.
Sejatinya, orang tua tidak butuh oleh-oleh yang kadang menghambat kepulangan anaknya. Sering kali seorang anak bertahun tahun tidak pulang dengan alasan tidak punya uang yang cukup untuk oleh-oleh orangtua di rumah. Padahal orang tua hanya menginginkan pelukan hangat dari anaknya yang telah lama tidak berjumpa.
Dalam Islam, posisi orang tua adalah azimat sakti yang harus disayangi, ditaati,dan diprioritaskan. Islam menempatkan orang tua di posisi yang sangat tinggi. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al-Qur’an :
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.” (QS. Al-Isra: 23)
Dalam ayat di atas, Allah memberikan dua perintah utama. Pertama, Allah menginstruksikan kita untuk menyembah-Nya semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun. Ini merupakan landasan utama iman dan tauhid bagi setiap Muslim. Dengan memahami dan melaksanakan perintah ini, seseorang akan membentuk karakter yang kuat, berlandaskan ketakwaan kepada Allah.
Kedua, Allah swt memerintahkan kita untuk berbakti kepada orang tua. Dalam ayat ini, kita diajarkan untuk selalu menghormati dan menyayangi kedua orang tua. Ini adalah manifestasi nyata dari pendidikan karakter yang perlu kita tanamkan dalam diri sendiri dan anak-anak kita. Menghormati orang tua bukan hanya berarti memenuhi keinginan mereka, tetapi juga menjaga perasaannya, berkomunikasi dengan lembut, dan tidak menyakiti hati melalui perkataan atau tindakan.
Perlu diingat, sikap hormat kepada kedua orang tua tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kesehatan emosional dan kesejahteraan kita, akan tetapi juga menjadi teladan bagi anak turun kita mendatang untuk menghargai dan menghormati kita sebagai orang tua mereka. Selain itu, dengan berbuat baik kepada orang tua, kita berpotensi mendapatkan berkah dan doa yang baik dari mereka yang diyakini akan membawa kebaikan dalam menjalani kehidupan.
Bahkan dalam hadist Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya menghormati kedua orang tua yang telah melahirkan, membiayai hingga dewasa, bahkan yang kasih sayangnya tidak pernah pudar. Rasullullah SAW bersabda
رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ
“Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim).
Sangat jelas sekali dalam hadits di atas bahwa ridha orang tua menjadi salah satu penentu keberhasilan seorang anak. Dalam ridha orang tua terdapat ridha Allah, yang menjadi kunci keberkahan hidup, ketenangan hati, dan kemudahan dalam setiap urusan. Sebaliknya, murka orang tua bisa menjadi sebab terhalangnya keberkahan, bahkan menjadi jalan datangnya kesulitan dalam kehidupan. Jika Allah sudah murka, maka tidak ada tempat berlindung yang mampu menyelamatkan, seberapa pun besar usaha yang dilakukan.
Oleh karena itu, selama orang tua masih hidup, sudah sepantasnya kita menyayangi, menghormati, dan memprioritaskan mereka dalam hidup kita. Perhatian kecil, ucapan lembut, serta waktu yang kita luangkan untuk mereka memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah. Jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lalai dari berbakti kepada mereka. Bagi yang orang tuanya telah wafat, kewajiban berbakti tidak serta-merta terputus. Kita masih bisa mendoakan mereka, melanjutkan silaturahmi dengan keluarga dan sahabat-sahabat mereka, serta menjaga nama baik mereka.
Ada sebuah ungkapan yang sangat menyentuh hati: “Orang tua mampu merawat dan membesarkan sepuluh anaknya, tetapi sepuluh anak belum tentu mampu merawat kedua orang tuanya.” Ungkapan ini menjadi cermin nyata kehidupan saat ini. Betapa besar pengorbanan orang tua, mulai dari tenaga, waktu, hingga perasaan, demi melihat anak-anaknya tumbuh dan berhasil. Namun, tidak sedikit anak yang ketika telah dewasa dan sukses justru lalai atau bahkan enggan berkorban untuk orang tuanya.
Padahal, pengorbanan kita untuk orang tua tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah mereka berikan kepada kita sejak kecil. Oleh sebab itu, mari kita terus berusaha membahagiakan mereka, baik dengan akhlak yang baik, kesuksesan duniawi, maupun amal ukhrawi kita.
Terlebih di bulan yang penuh berkah ini dan di hari raya Idul Fitri, semoga kita semua diberi kemampuan untuk semakin berbakti, mencintai, dan membahagiakan kedua orang tua kita. Aamiin.
Wallahu A’lam

